31 Maret 2008
Jakarta
Tiga Bakal Calon Gubernur BI Mulai Dikecam DPR
Tiga nama yang disebut-sebut bakal diusulkan Presiden SBY ke DPR menjadi calon gubernur Bank Indonesia (BI) mulai disikat habis-habisan oleh anggota Dewan. Tiga nama yang dimaksud adalah Menko Ekuin Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Deputi Gubernur Senior BI Miranda
Goeltom.
Dan tiga nama itu, anggota DPR Dradjad Hari Wibowo menilai Boediono bakal mendapatkan dukungan kuat dari pihak asing untuk menjadi gubernur
BI. Pasalnya Boediono memberikan sumbangsih besar bagi kepemilikan pihak asing terhadap sejumlah bank di Indonesia.
"Asing jelas suka dia (Boediono) karena kebijakan mereka (pihak asing, red)bisa beli bank dan aset Indonesia dengan harga murah. Jika
Boediono memimpin BI akan makin kokoh penguasaan asing terhadap perbankan nasional." ujar Dradjad kepada Rakyat Merdeka kemarin.
Menurut Dradjad, masa lalu Boediono yang menjual bank dengan harga murah tersebut akan menjadi ganjalan serius saat menjalani fu andpmper
tes! di Komisi Xl DPR.
Untuk itu politisi PAN ini mengimbau agar SBY tidak memasukkan nama Boediono menjadi salah satu calon gubernur B). Jika tetap memaksakan.
Dradjad yakin itu akan merugikan SBY sendiri. "Sebaiknya Presiden tidak memicu kontroversi lagi dengan Sementara itu Direktur Lembaga Studi
Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy menyebutkan Boediono, Sri Mulyani dan Miranda Goeltom memiliki track recoirlyang kurang mulus.
Sebut dia. Boediono terlibat dalam pencairan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan merancang rekapitulasi perbankan sebesar Rp
422,6 triliun. Sementara Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan gagal dan loyo mencapai target-target APBN.
"Selain pemborosan biaya, Miranda Goeltom punya catatan kontroversi pada tahun 2006 melakukan perjalanan ke luar negeri selama 152 hari,"
ungkap Noorsy. Penilaian lain disampaikan ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani. Aviliani
memprediksi. Boediono akan menjadi kuda hitam dalam pemilihan Gubernur BI jika lawannya hanya Sri Mulyani dan Miranda.
Dijelaskan, ada dua hal yang membuat Boediono beda dengan dua calon tersebut. Pertama, secara politik, sosok Boediono bisa lebih diterima
oleh DPR. Kedua, selain menguasai bidang moneter juga menguasai sektor fiskal.
Aviliani juga nggak yakin kalau Sri Mulyani mau dicalonkan menjadi Gubernur BI karena posisinya sebagai Menteri Keuangan jauh lebih
strategis. "Kalau Cuma jadi Gubernur BI. geraknya makin terbatas."
Sementara itu, anggota Komisi XI DPR dari PKS Andi Rahmat mengatakan tiga nama itu masing-masing memiliki plus minus sehingga harus dibedah
dulu. "PKS belum mengambil sikap apa-apa atas nama-nama yang beredar di Senayan. Kita akan lihat dulu, kemampuan masing-masing kandidat,"
ungkapnya.
Sementara itu. Partai Golkar nampaknya kurang setuju bila anggota Kabinet Indonesia Bersatu dirombak jika Boediono dan Sri Mulyani jadi
gubernur BI.
Alasannya, Partai Golkar takut perombakan tersebut menimbulkan resistensi terhadap pemerintahan SBYKalla yang tinggal 1,5 tahun. Selain itu
juga akan menimbulkan kesan seolaholah tidak ada orang lain di luar kabinet yang mampu jadi Gubernur BI.
"Masak sih dari 220 juta rakyat Indonesia tidak ada yang mampu jadi Gubernur BI daripada merombak atau membongka rbongkar kabinet yang belum
tentu pas," tegas Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo.
Dikatakan, Golkar tidak ada masalah bila presiden SBY mencalonkan Boediono jadi Gubernur BI. termasuk mengangkat Sri Mulyani menjadi Menko
Perekonomian dan Darmin Nasution sebagai Menkeu.
Firman juga memastikan. Wapres Jusuf Kalla tidak pernah mengajukan orang Golkar menjadi Gubernur BI karena memahami posisinya sebagai
wapres, namun kalau diajak bicara, tentu akan menyampaikan pendapat dan saran.
Sumber : Rakyat Merdeka
Kembali.....
|