BERITA

02 April 2008
Jakarta
Inflasi Maret 2008 Sudah 0,95 Persen
Berat, Realisasi Target Pemerintah 6,5 Persen Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka inflasi bulan Maret 2008 sebesar 0,95persen.

Terkait hal ini, target 6,5 persen inflasi pada tahun ini seperti yang dipatok pemerintah sepertinya akun sulit tercapai. DARI 45 kota. BPS mencatat jika 40 kom mengalami inflasi dan lima kota deflasi. Inflasi tertinggi sendiri lerjadi di Bengkulu dengan angka 1,96 persen dan inflasi terendah di Pangkal Pinang yaitu 0,05 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Ambon dengan angka 2,73 persen dan deflasi terendah di Palangkaraya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS. Ali Rosidi di Jakarta, kemarin mengungkapkan jika angka inflasi yew on year (YoY) atau angka inflasi bulan Maret 2007 sampai Maret 2008 sebesar 8, J 7 persen. Scmenlara angka inflasi selama Januari-Maret tahun ini sebesar 3,41 persen.

Inflasi komponen inti pada Maret 2008 sebesar 0,87 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Maret) 2008 sebesar 3.18 persen, sedangkan laju inflasi komponen inli vear on year (Maret 2008 terhadap Maret 2007) sebesar 8,07 persen.

"Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok-kelompok barang dan jasa." ungkap Ali.

Mengacu kepada angka inflasi Maret sebesar 0,95 persen ini. Ekonom Senior BNI Ryan Kiryanto menga iakan, upaya mencapai target inflasi 6,5 persen seperti yang ditargetkan pada tahun ini berat untuk direalisasikan.

"Laju inflasi tahun kalender 3,41 persen, berat bagi pemerintah maupun BI untuk mencapai inflasi 6,5 persen sesuai dengan asumsi APBN 2008," ujar Ryan di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, tingginya inflasi Maret di luar estimasi semua ekonom, karena sebelumnya dia hanya memproyeksikan inflasi di kisaran 0,6 persen hingga 0,8 persen. Tingginya inflasi vear on year sebesar 8,07 persen mempersulit BI menurunkan BI Rate sehingga ke depan BI Rale akan tetap di level 8 persen.

Bahkan, ujar Ryan, ada peluang BI Rale naik 25 basis poin menjadi .ipabila perilaku inflasi April ini masih seperti Februari dan Maret lalu karena faktor lonjakan harga bahan makanan dan tekanan harga minyak dunia.

"Apalagi pemerintah via Pertamina baru saja menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) industri dan non subsidi, tentu berdampak inflatoir," imbuhnya.

Upaya mencapai inflasi 6.5 persen, kala Ryan, hanya bisa dilakukan apabila tekanan harga terhadap balian makanan dapal dikurangi sehingga terjadi keseimbangan sisi supph and demand.

"Namun hal ini bakal sulit dicapai, karena ada tekanan eksternal berupa tingginya harga minyak sehingga berdampak imported inflation,".

mengandalkan lonjakan inflasi yang ' efektif adalah dengan menaikkan suku bunga sebagaimana dilakukan negara-negara lain seperti Cina. Eropa, dan Australia, yang saat ini tengah dihadapkan pada inflasi linggi.

bunga akan mendera pelaku usaha sehingga terjadi perlambatan ekonomi dan permintaan kredit merosot. Untuk iiu. BI dan tim ekonomi harus meningkalkan kualilas koordinasi untuk mengontrol inflasi agar dapat terkendali. Syukur-syukur ada bulanbulan terjadi deflasi," ujarnya.

Pemerintah sendiri optimisis jika inflasi tahun ini mencapai target 6,5 persen dengan melakukan serangkaian upaya menekan inflasi. kita terus berusaha karena masih ada 8 bulan ke depan dan kita akan terus berusaha untuk menekan angka inflasi," ujar Menko Perekonomian Boediono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, kemarin.

Inflasi hingga Maret ini totalnya sudah mencapai 3.14 persen. Menurut Boediono, inflasi lebih terjadi karena faktor kenaikan harga barang komoditas di luar negeri, la menepis anggapan kalau inflasi tinggi karena faktor rupiah yang melemah.

'Menurut saya, rupiah stabil di Rp9.20O-an.jadi inflasinya lebih banyak dari faktor dari luar, jadi masih kira usahakan untuk ditekan," ujarnya.

Sumber : Rakyat Merdeka


Kembali.....