26 Juni 2008
Jakarta
Indonesia Belum Siap untuk Bebas Fiskal
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Debud-par) tetap menolak pembebasan biaya fiskal ke luar negeri. Pasalnya, syarat pemberlakukan bebas
fiskal yang diinginkan Depbudpar belum terpenuhi.
Staf ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang juga bekas Direktur Jenderal Pemasaran Wisata Depbudpar Thamrin B. Bachri bilang, saat ini
tingkat berpergian rata-rata wisatawan lokal baru ke tiga provinsi. "Kalau tingkat berpergian rata-rata di dalam negeri sudah ke sepuluh
provinsi baru kami menerima," katanya. Rabu (25/6).
Menurutnya, mobilitas wisatawan domestik di daerah wisata dalam negeri bakal semakin rendah jika fiskal dihapus. Pa-salnya, mereka bakal
lebih memilih berlibur ke luar negeri.
Penolakan itu berkaitan dengan rencana Direktorat Jenderal Pajak yang akan menghapus fiskal mulai 1 Januari 2011. Dirjen Pajak
memperkirakan, di tahun itu seluruh wajib pajak di Indonesia sudah memegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). NPWP inilah yang menjadi syarat
bebas fiskal ke luar negeri.
Thamrin menilai, biaya fiskal masih dibutuhkan untuk menghidupkan pariwisata dalam negeri. "Depbudpar sedang mendorong wisatawan berpergian
di i.i11,ili air," katanya.
Kendati begitu, dia tidak menampik, penghapusan biaya fiskal adalah bentuk subsidi bagi industri pariwisata domestik. Pasalnya, bakal
semakin banyak wisatawan asing yang datang ke Indonesia Namun Thamrin te-tap menegaskan, Debudpar setuju pembebasan fiskal hanya berlaku
bagi kepentingan tertentu. Seperti keperluan untuk sekolah di luar negeri atau acara pertukaran budaya.
Maskapai belum siap
Sedangkan industri penerbangan di tanah air belum seluruhnya siap menyambut pembebasan biaya fiskal. Sekretaris Perusahaan PT Merpati
Airlines
Purwatmo mengatakan, maskapai penerbangan nasional termasuk Merpati masih kekurangan armada pesawat untuk menghadapi lonjakan penerbangan ke
luar negeri. "Apalagi persaingan dengan maskapai penerbangan asing semakin ketat," ujar Purwatmo.
Di sisi lain, keinginan Merpati menambah armada pesawat terbentur tingginya permintaan pesawat di pasar dunia. "Jadi saat ini kami memang
belum siap," katanya
Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan (Dephub) Bambang S. Ervan mengakui, penghapusan fiskal belum banyak manfaatnya bagi
maskapai penerbangan nasional. Penumpang tetap memilih berpergian dengan maskapai asing yang mempunyai pesawat-pesawat baru.
Sumber : Harian Kontan
Kembali.....
|